Butuh Darah untuk Bertahan Hidup

Butuh Darah untuk Bertahan Hidup

Butuh Darah untuk Bertahan Hidup

Butuh Darah untuk Bertahan Hidup – Media sosial diramaikan dengan curhatan seorang pasien thalassemia yang kesulitan mencari pasokan darah saat pandemi virus corona. Tak dimungkiri, situasi berubah sejak pandemi Covid-19 mulai Maret 2020. Pandemi secara tidak langsung mempengaruhi pasien thalassemia. Apa hubungannya?

Dokter Anna Mira Lubis, spesialis hematologi-onkologi di RS Cipto Mangunkusumo, menuturkan pandemi membuat pasien kesulitan memperoleh transfusi darah. Namun, ini tak hanya thalassemia, kata dia, tetapi juga seluruh pasien yang mengalami kelainan darah.

“Pasien lebih sulit (memperoleh pendonor darah) karena Covid-19 membuat pendonor jadi takut keluar rumah, ada aturan harus di rumah, dia sendiri juga khawatir saat donor darah, enggak bisa melalui sambungan telepon. Thalassemia bukan penyakit menular, namun diturunkan oleh orang tua kepada anak.

Mira berkata carrier atau trait biasanya tidak menunjukkan gejala. Umumnya orang dinyatakan sebagai carrier setelah menjalani medical check up. Sedangkan thalassemia intermedia bisa dibilang berada di tengah-tengah dengan gejala ringan seperti hemoglobin (Hb) tidak rendah dan transfusi darah hanya di saat-saat tertentu misal saat hamil karena kondisi ini kerap membuat Hb ibu turun.

Berdasarkan jenis, thalassemia bisa dibedakan menjadi dua yakni thalassemia alfa dan thalassemia beta. Alfa dan beta menunjukkan globin yang hilang pada hemoglobin pasien thalassemia. Sedangkan secara klinis atau fenotip (dilihat dari karakteristik) bisa dibedakan menjadi carrier (trait atau pembawa sifat), thalassemia intermedia, dan thalassemia mayor.

Padahal, pasien thalassemia memerlukan transfusi darah untuk tetap bisa bertahan hidup. Rata-rata transfusi darah dibutuhkan sekali dalam dua minggu.Mira menjelaskan thalassemia merupakan penyakit kelainan sel darah merah yang bersifat autosomal recessive atau diturunkan dari orang tua ke anaknya. Kelainan mengakibatkan rantai globin sebagai struktur utama sel darah merah tidak diproduksi atau terbentuk. Akibatnya sel darah merah tidak stabil dan mudah pecah.

“Paling ekstrem (thalassemia) mayor. Gejalanya anemia berat sekali, pucat, cepat letih, kulit kuning. Kalau dari usia anak-anak bentuk wajah jadi lain karena tulang-tulangnya membesar, bisa anak enggak tumbuh-tumbuh, biasanya hati dan limpa besar. Gejalanya kalau yang mayor semua terkait Hb yang rendah,” katanya.

Pasien thalassemia mayor umumnya memerlukan transfusi darah tiap 2-4 minggu sekali. Kemudian kelompok lain yang memerlukan adalah intermedia meski lebih jarang. Kebutuhan darah pun akan berbeda tiap pasien tergantung dari severity atau keparahan penyakit.

Mira menuturkan dari UTD PMI sudah merespons kebutuhan darah yang begitu besar. Terutama saat pandemi seperti sekarang, PMI berupaya menerapkan protokol kesehatan yang ketat agar pendonor tidak ragu untuk donor. Dia menambahkan aturan-aturan ini seperti aturan jarak fisik antarpendonor, pembuatan jadwal untuk menghindari penumpukan pendonor serta memastikan kebersihan alat serta kursi atau tempat tidur pendonor.

Saat ini pasien pun harus sadar ada penyakit lain yang juga mengancam kesehatan. Mira berharap pasien benar-benar membuka mata dan menerapkan protokol kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *