Tujuh Mitos soal Cara Merawat Gangguan Kesehatan Mental

Tujuh Mitos soal Cara Merawat Gangguan Kesehatan Mental

Seperti di kebanyakan negara berkembang lainnya, kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia juga masih terbilang cukup rendah. Padahal, baik yang menyadari atau tidak, sudah sangat banyak individu yang mengalami gangguan ini. Sayangnya, meski undang-undang tentang kesehatan jiwa telah di buat, praktiknya masih belum juga begitu signifikan.

jigDaEHGkssT63auYWb6pVxcyiXZHSyBG0h0nN8zm44l xE3sDUCr pwETaSvltyjrkLSwvLnGNk03ianoqxF HJdPietEBRML1egTGnKEBggR7xyMk1c9jZRFrkM9zEqEbfyLTOwm2 mOg - Tujuh Mitos soal Cara Merawat Gangguan Kesehatan Mental

Melansir dari insitepeek.com selain kurangnya investasi dalam hal jumlah tenaga ahli, anggapan masyarakat tentang kesehatan mental juga masih di anggap negatif. Akibatnya, banyak individu yang diam-diam merasa depresi, stres berat, cemas berlebihan, dan sebagainya enggan untuk berani mengungkap kebutuhannya akan pertolongan.

Paling tidak, kehadiran internet dan media digital sebagai sarana informasi dapat membantu mereka untuk mencari tahu apa yang perlu dilakukan. Sayangnya, masih banyak mitos soal cara menangani gangguan kesehatan mental yang beredar sehingga memberikan dampak yang tidak signifikan seperti berikut ini.

1. Berolahraga dapat menyembuhkan depresi

Kamu tentu sudah berkali-kali mendengar atau membaca bahwa olahraga mampu mengatur kadar adrenalin dan menghasilkan endorfin yang memberikan perasaan bahagia. Menurut Harvard Health, aktivitas fisik ini juga mampu melawan gejala depresi dan gangguan kecemasan seefektif obat-obatan, tetapi hanya bagi sebagian orang. Kebanyakan, orang tidak dapat mengatasi gangguan mentalnya hanya dengan olahraga. Alih-alih sebagai ‘obat’ utama, olahraga justru merupakan suplemen alias pelengkap saja.

2. Semua terapi sama saja dan bisa untuk siapa saja

Mengutip dari bobsledsong.com tidak semua terapi cocok untuk setiap mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental. Sekalipun format dasarnya sama, setiap orang tetap merasakan pengalaman yang berbeda.

Karena itu, mencari psikiater atau psikolog yang tepat juga bukanlah pekerjaan mudah. Beberapa orang boleh jadi merasa cocok dan terbantu dengan terapis A, tetapi boleh jadi kamu tidak akan merasa cocok dan terbantu dengan terapis yang sama.

3. Kamu memerlukan diagnosis khusus sebelum mencari pertolongan

Gangguan mental adalah hal yang berat. Hanya karena kamu masih bisa tersenyum dan membuat orang-orang tidak curiga, bukan berarti kamu tidak merasa begitu hancur dan kalut di dalam.

Dalam kata lain, hanya kamu yang tahu betapa beratnya masalah yang dialami. Karena itu, kamu tidak perlu melakukan diagnosis terlebih dahulu untuk mencari pertolongan. Hal ini akan jadi semakin krusial bila kondisi mentalmu yang terguncang mulai memberikan pengaruh pada produktivitas atau kehidupan sosialmu.

4. Depresi adalah hal yang bisa dengan mudah kamu lupakan

Empati juga menjadi hal yang semakin langka dalam kehidupan millennial sekarang khususnya. Terkadang, beberapa orang menganggap masalahmu tidak seberat yang tampak, tetapi mereka lupa bahwa kemampuan setiap orang untuk menerima dan menyikapi masalah berbeda.

Menurut Suicide.org, stigma yang ada di lingkungan masyarakat adalah bahwa depresi bukanlah sebuah penyakit yang memerlukan perawatan medis dan dapat dengan mudah disembuhkan. Kenyataannya, orang-orang yang berjuang melawan depresi justru sangat membutuhkan pertolongan, baik secara medis maupun emosional.

5. Berpikiran positif adalah kunci kesembuhan dari semua jenis beban mental

Tentu, positive thinking dapat memberikan banyak benefit termasuk bagi orang-orang yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental. Namun, lagi-lagi, tidak semudah itu.

Bahkan bagi beberapa penderita, terus menerus di suntik dan mendengar ucapan, “Udah, positive thinking aja,” justru menimbulkan rasa frustrasi yang lebih parah. Seperti olahraga, tetap berpikiran positif juga sering kali merupakan suplemen.

6. Sekali mengonsumsi obat, kamu selamanya akan ketergantungan

Bagi kebanyakan penderita, obat-obatan menjadi penyelamat hidup mereka, walau bagi sebagian lainnya justru merupakan hal yang tidak efektif. Namun, anggapan yang terlanjur beredar di masyarakat adalah bahwa konsumsi obat-obatan tersebut dapat mengubah otak mereka dan justru membuat mereka kecanduan.

Menurut Patricia Allen, psikiater dan direktur eksekutif layanan medis di Summit Behavioral Health, resep yang di berikan pada pasien selalu melibatkan kesediaan dari pasien itu sendiri. Obat-obatan yang di berikan hanya untuk  membantu menstabilkan neurotansmitter penderita.

7. Gangguan mental tidak akan pernah bisa hilang

Pada kenyatanya, otak manusia memiliki kemampuan untuk selalu beradaptasi di berbagai situasi yang berbeda. Sel-sel otak juga terus tumbuh sepanjang hidup manusianya.

Hal tersebut di sampaikan melalui sebuah studi yang di publikasikan dalam Journal Neuropsychiatry. Berdasarkan konsep ini, sekalipun gangguan mental seperti orang gila cukup susah untuk di sembuhkan, bukan berarti tidak ada kemungkinan untuk lebih baik.

Setiap orang mempunyai batas kekuatan masing-masing dalam mengatasi masalahnya. Untuk itu, apabila kamu atau orang terdekat di sekitarmu berada di dalam kondisi kejiwaan yang terganggu seperti: depresi, cemas berlebihan, bahkan perubahan suasana hati yang terlalu cepat dan mengganggu, jangan ragu untuk mencari pertolongan yang tepat.